Malam tak selalu hitam
Dibawah lampu temaram, parasmu masam
Masamu yang sempurna, tercabik masa ini
Baru sekilo meter perjalananmu, engkau terlihat lelah
Jalanmu masih panjang, beratus ribu kilo meter.
Aku pasti paham tentang masamu dulu
Tak pernah kau merasai ini
Tak pernah sekalipun kau jauh
Tak pernah sejenak pun sepi
Tak pernah juga kau terasing
Tak pernah rusak makan siangmu
Aku juga mengerti tentang masamu dulu
Ekspektasimu hedonis
Meski kau terjebak dalam hidup Sisifus
Itu semu
Dan saat ini, nyata bagimu……
***
Pria diburu oleh keabadian, dan kita bertanya pada diri sendiri, …akankah sikap kita dikenang hingga berabad kemudian? …akankah orang asing yang mendengar nama kita lama setelah kita mati, ingin tahu siapa kita, betapa gagah berani kita berperang, betapa besar kita mencintai…” (opening – film TROY)
Selasa, 18 Maret 2014
Jumat, 14 Maret 2014
Kelud
Tak ada firasat apapun Jumat pagi itu
Sang kekasih mengirim pesan, “ada hujan abu”
Aku cek timeline, “Gunung Kelud erupsi”
Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak tinggi
Hari yang resah, gundah gulana
Mata telinga fokus pada berita
Kabar bandara terus diburu
Berita maskapai ditunggu-tunggu
Soreku menjadi gamang
Tekad nekat untuk pulang
Melaju dijalanan dengan keraguan
Apa yang terjadi, itu takdir Tuhan
Tunggangan kusandar dan bergegas
Kumantapkan diri, emosiku mesti cerdas
Ada pesan tertulis, penerbangan dibatalkan
Kuangkat telpon, “Sayang, terbang tertunda pekan depan".
Sang kekasih mengirim pesan, “ada hujan abu”
Aku cek timeline, “Gunung Kelud erupsi”
Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak tinggi
Hari yang resah, gundah gulana
Mata telinga fokus pada berita
Kabar bandara terus diburu
Berita maskapai ditunggu-tunggu
Soreku menjadi gamang
Tekad nekat untuk pulang
Melaju dijalanan dengan keraguan
Apa yang terjadi, itu takdir Tuhan
Tunggangan kusandar dan bergegas
Kumantapkan diri, emosiku mesti cerdas
Ada pesan tertulis, penerbangan dibatalkan
Kuangkat telpon, “Sayang, terbang tertunda pekan depan".
Senin, 17 Februari 2014
Diatas Tanah Laut
Senja
temaram Pelaihari
Adalah
saksi kuberdiri disini
Di
depan keasrian gedungmu
Pesonamu
menyambutku
Hangat
sapaan insanmu
Memenuhi
lubang kerisauanku
Semangat
mereka menggugah sisi optimisku
Kusongsong
matahari lebih awal
Hari
ini kulalui dengan keceriaan
Ini
bukan unit sembarangan
Ini
modernisasi dibalut teknologi
Tak
sekedar berdiri di atas bumi, tapi diatas Tanah Laut
Membawaku
pada kedamaian
Kunikmati
ketentraman
Lepas
dari hiruk dan kebuntuan
Dan
pagi itu bukan basa basi, bukan pula pencitraan
Tidak
juga siang bahkan sore
Ia
sungguh melayani
Kecepatan
adalah andalan
Kecermatan
adalah kebiasaan
Kemudahan
adalah tradisi
Ketepatan
adalah tujuan
Lalu,
apakah arti prestasi tanpa inovasi
apakah
arti inovasi tanpa kebanggaan
apakah
makna kebanggaan tanpa keabadian
Maka,
kami ukir prasasti kesungguhan hati
Kami
kumandangkan kebesaran di langit
Kami
tulis di dinding-dinding hati kalian
Inilah kami......
Puso
Terik matahari menyengat tubuhnya yang telah renta
Kepulan asap nikotin lekat dengan wajahnya
Berdiri mematung memandangi buliran padi yang memutih
Keputusasaan menyeruak
Terbayang jerih payah yang tak berarti
Padi puso dimamah hama
Setahun berlalu, saat bahagia itu menghampirinya
Ia telah menjadi petani, bukan buruh tani
Status yang baru disandangnya dikala senja
Hamparan sawah telah menjadi milik keluarga
Semangatnya terus menyala tak seimbang dengan jumlah usia
Jiwa tani sejati telah menghunjam
Putus asa tak lebih dari hitungan detik
Bangkit segera, lupakan duka
Alkisah, berpuluh tahun ia bergelut di negeri sebrang
Demi cita-cita keluarga dan putra-putrinya
Pantang menyerah, meski penjara taruhannya
Kini, cita-cita itu bukan lagi mimpi
Sang putra telah menjadi sarjana
Mandiri dan penuh balas budi
Tetap saja, tak ada bahagia yang sempurna
Ada lubang yang tak lagi bisa ditambal
Kekasih jiwa telah tiada
Disaat bahagia keluarga mulai menyapa
Selasa, 28 Januari 2014
Serial Perjalanan (1) ~ Pulau Alor - NTT
Tak pernah
sekalipun aku menduga perjalananku sampai disini, di Kalabahi, Alor. Saat akan
terbang dengan Merpati dari Kupang, aku sempat ragu. Cuaca yang mendung,
kredibilitas Merpati yang tidak juga membaik dan jadwal delay, makin
menyurutkan nyaliku untuk terbang ke Mali.
Bismillah, aku kuatkan hatiku. Aku tiba di Mali dengan selamat.
Bismillah, aku kuatkan hatiku. Aku tiba di Mali dengan selamat.
Menunggu
satu jam lebih. Meski sudah kutelpon berkali-kali seseorang yang dijanjikan
untuk menjemput kami berdua, tetap saja kami harus menunggu. Ya sudah, kami
bersabar..

"Kemana
kita, Pak?” Tanya Ospo saat berada di mobil yang menjemput kami. “Ke kantor
saja dulu,” jawabku. Kami tiba di depan sebuah bangunan kecil, dimana salah satu
kantor kami beroperasi. Kami masuk ke dalam dan mengamati seluruh isi ruangan.
“Kami menginap di hotel saja,” jawabku setelah mendengar tawaran untuk bermalam di kantor. Bukan hotel yang aku temukan, tapi sebuah penginapan. Tak apa, yang penting bisa untuk beristirahat.
“Kami menginap di hotel saja,” jawabku setelah mendengar tawaran untuk bermalam di kantor. Bukan hotel yang aku temukan, tapi sebuah penginapan. Tak apa, yang penting bisa untuk beristirahat.
Sore itu
kami mencoba menikmati kota Kalabahi dengan sepeda motor kantor. Aku arahkan ke
Pelabuhan. “Isi bensin dulu,” kataku ke Pring. “Satu botol berapa, Bu?” Tanyaku
ke penjual bensin di jalanan masuk ke Pelabuhan. “Sepuluh ribu,” jawabnya.
Setelah
berfoto ria di pelabuhan, kami berhenti di pinggir lapangan dengan keramaian
masyarakat Kalabahi menyaksikan pertandingan sepak bola. Kulihat diseberang jalan
tulisan besar : Kalabahi Kota Kenari.
Malam itu, dengan ditemani hidangan ikan bakar kami merencanakan perjalanan esok hari dengan menyewa mobil. Sebuah petualangan untuk menikmati keindahan Pulau Alor.
Dan benar
saja, betapa keaslian alam Pulau Alor sudah aku rasakan di sepanjang perjalanan
menuju Takpala, sebuah kampung tradisional. Kami menyusuri pinggiran laut
dengan airnya yang jernih.
Aku pun telah berada di sebuah bukit dimana Takpala berada. Hamparan laut nan indah tak dapat kami lewatkan begitu saja.
“Selamat
pagi, Bu,” kusapa dan kuberjabat tangan dengan beberapa penduduk yang tinggal
disitu. Kucoba menikmati keheningan dan kedamaian jauh dari hiruk manusia
modern. Kuamati bangunan rumah, aktivitas penduduk dan berfoto.
“Berapa
harga selendang ini,” tanyaku. “Seratus ribu,” jawab seorang ibu. Kami tawar
menawar dan sepakat dengan harga tujuh puluh ribu.
Petualangan
kami berlanjut. Berpantai-pantai. Ada lima pantai yang kami kunjungi. Sungguh takjub.
Pantai yang alami, air yang jernih dan pasir putih.
Sore hari
kami mengakhiri petualangan di Pulau Alor. Sangat mengesankan….., dan malam itu,
ketakjubanku bertambah. Sebaris BBM dari seseorang yang aku hormati. “Selamat mas
ya atas promosinya ke Pelaihari." Deg…… jantungku berdesir. Pelaihari…, sebuah kota
di Tanah Laut Kalimantan Selatan.
Tiba-tiba malam
itu aku insomnia... Kupaksakan tidur karena esok pagi, kami harus kembali terbang
ke Kupang.
Dan episode berikutnya adalah sebuah lakon di Tanah Laut… sebuah nama yang menurutku sangat puitis.
***
Langganan:
Postingan (Atom)























