Senin, 09 Februari 2015

Hikayat Dusun Beluk



Inilah kisahnya. Dusun Beluk, sebuah dusun kecil, hanya memanjang bagai garis lurus dari utara ke selatan. Beluk artinya burung hantu. Ada seekor burung hantu yang bersarang di satu pohon besar di areal kuburan dusun Beluk. Sejarah Dusun Beluk adalah sejarah pertentangan tanpa rujuk. Seolah-olah, perselisihan menjadi kutukan para leluhur, ditandai dengan suara burung hantu pada malam hari sebelum peristiwa. Suara beluk juga menandai kematian seorang tokoh.
Dahulu, hanya ada satu masjid di bagian utara dusun dan satu mushola di bagian selatan. Awalnya, ada pesantren di sekitar masjid utara milik keluarga sang Kyai. Lalu, mati suri karena ditinggal wafat sang Kyai, sementara para penerus dari keturunannya masih belajar di pesantren lain. Malam sebelum sang Kyai wafat, suara burung hantu nyaring terdengar di telinga warga.
Setelah tamat belajar, para penerus itu pulang. Dipimpin oleh sang paman -seorang Kyai yang telah merantau puluhan tahun di daerah seberang- mulailah pesantren dihidupkan dan ditata kembali. Pada saat yang sama datanglah seorang anak muda, jebolan pesantren. Ia bukan berdarah biru. Ia berasal dari keluarga di bagian selatan Dusun Beluk. Dia mencoba bergabung dengan keluarga masjid utara, berusaha membantu berdirinya pesantren. Dia punya pamrih. Dia ingin menikahi gadis keturunan keluarga masjid. Namun, ditentang keluarga masjid, khususnya sang paman, yang mengetahui pemuda itu mencoba menjampi-jampi keponakannya.
Malam itu, suara burung hantu dari pohon besar menggema di Dusun Beluk. Pemuda ini marah dan memberontak. Dia hengkang bersama para pengikutnya dengan membawa beberapa peralatan belajar. Lalu, mereka bermarkas di mushola di bagian selatan dusun. Dimulailah rencana besar membangun pesantren di dusun bagian selatan, diawali dengan membangun masjid. Maka, di Dusun Beluk yang kecil itu berdiri dua masjid : utara dan selatan. Dengan pesantren baru yang dibangunnya, anak muda itu menyandang gelar kyai, sebut saja sebagai kyai muda.
Sejak itu, intrik-intrik perselisihan antara keluarga masjid utara dan kyai muda itu merembet ke masyarakat. Orang dusun mulai ikut-ikutan berpihak. Jadilah dua blok, blok masjid utara dan blok masjid selatan.
Ada sebagian warga di dekat masjid utara berpihak ke masjid selatan. Mereka menunaikan sholat fardhu berjamaah dan sholat Jumat di masjid selatan. Begitu sebaliknya, ada sebagian warga yang lebih dekat masjid selatan, tetapi tetap memilih menunaikan sholat Jumat di masjid utara. Demikian juga dengan sholat idul fitri. Kadang, masjid selatan ber-idul fitri lebih dulu. Masjid utara, belakangan.
Pesantren selatan berkembang dengan pesat. Kepandaian kyai muda untuk menggalang dana dan mendapatkan areal-areal sekitar pesantren membuat bangunan pesantren terus bertambah besar. Banyak santri berdatangan dari luar dusun.
Sementara, pesantren utara berjalan terseok-seok. Suara burung hantu kembali terdengar. Sang paman, sebagai kyai sepuh, meninggal dunia, diawali dengan sakit yang misterius. Pesantren utara makin terpuruk.
Dengan dua pesantren, jadilah dusun Beluk sebagai dusun santri. Lingkungan dan suasananya  bisa mengubah seorang yang bejat menjadi baik. Orang yang tak pernah sholat menjadi rajin sholat. Orang yang gemar berjudi, minuman keras akan malu sendiri, karena tak ada teman. Ia harus melakukannya di luar dusun. Yang kehidupannya merah akan menjadi hijau.
Tak berapa lama, suara burung hantu kembali nyaring. Sang kyai muda wafat meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Sang adik mewarisi pesantren mesjid selatan yang sudah terkelola dengan bagus.
Sejak meninggalnya dua tokoh kyai itu, warga dusun mulai lupa dengan perselisihan itu.
Tiba-tiba, suara burung hantu kembali mengusik ketenangan. Warga terhenyak dengan permusuhan perebutan harta warisan antara dua pamong desa, hingga hubungan keluarga dan kerabat tercerai-berai. Tak ada tegur sapa, meski rumah saling berhadapan. Semua berawal dari rasa iri dengki yang berujung dendam dan permusuhan.
Dan masih banyak peristiwa pertentangan yang terjadi. Semua ditandai oleh suara beluk di pohon besar.
Begitulah Dusun Beluk, dusun santri yang penuh perselisihan. Dan lambat laun menjadi hal biasa.
Lama tak lagi terdengar suara burung beluk. Kabarnya, seorang Ustadz muda telah menangkapnya dan menyerahkannya ke kebun binatang di satu kota besar. Suara burung hantu itu memenuhi kebun binatang. Sejak itu, perselesihan dan permasalahan tak henti-hentinya merundung kebun binatang itu.  Sang Ustadz muda mendatangi pengelola kebun binatang dan menyarankan agar burung hantu itu dilepas agar bebas terbang di angkasa.
Kini, suara burung hantu itu menggema di langit negeri. Dan tiba-tiba saja perselisihan, pertentangan antara dua kubu capres bak virus yang mewabah menjangkiti rakyat. Saling mencemooh dan menfitnah. Korban berjatuhan. Sedihnya, saling cibir dan fitnah itu tak jua berakhir meski presiden telah terpilih. Sakit hati, hasud dan fanatik buta menjadi landasan berpijak. Bahkan, nyinyir sudah menjadi karakter. 
Sang Ustadz muda menyesal. Lalu, ia memutuskan untuk memburu burung hantu itu. Ia ingin melenyapkannya.

***

Jumat, 12 Desember 2014

SI KANAN & SI KIRI

Rumahnya berada di tengah. Hidup di kompleks memang serba kompleks. Begitu juga dengan kedua tetangga yang berdampingan itu. Yang kanan, baik hatinya dan selalu berprasangka baik. Yang kiri, lebih banyak berburuk sangka dan pendengki. Dia menyebut tetangganya si kanan dan si kiri. Di dalam cerita ini, dia dikaruniai kemampuan untuk mendengar suara tetangganya meski dihalang tembok. Bisa juga karena saking tipisnya tembok antar rumah.

Ketika ia membeli seperangkat meja kursi tamu, ia mendengar si kanan berkata: “Alhamdulillah, tetangga kita punya kursi baru. Kalau bertamu, kita bisa duduk di kursi, tak lagi lesehan.”

Sedang si kiri berseloroh: “Bergaya, pake beli kursi baru…, emang dia punya tamu,” katanya bersungut-sungut.

Kala ia mengadakan pesta ulang tahun anaknya, ia mendengar si kiri berkata: “anak baru kemarin sore, udah diulang tahunin, emang ngerti dia… paling-paling hanya buat nyari kado.”

Sebaliknya justru si kanan berdoa untuk kebaikan anaknya: “semoga si Ay menjadi anak yang pintar dan sholehah.”

Waktu terus berputar membawanya pada rejeki yang cukup untuk membeli mobil. Saat mobil barunya tiba, si kanan buru-buru mendatanginya untuk mengucapkan selamat dan turut gembira. Sejurus kemudian mereka kaget mendengar suara keras dari dalam rumah si kiri.

“Bruuaakkk!”
“Tolong…, tolong….!” 
Teriak seorang anggota keluarga si kiri sambil berlari keluar rumah. Katanya, si kiri jatuh pingsan dan menimpa rak piring.  Sebelum pingsan, darah tinggi si kiri kumat setelah melihat mobil baru tetangganya itu.

Rabu, 10 Desember 2014

WANG SINAWANG



Setiap orang menganggap kehidupan orang lain lebih enak.
Orang kota: “Orang desa itu hidupnya enak. Semua punya sendiri. Gabah, beras, sayuran, buah-buahan, semuanya tak usah beli. Kami, orang kota, semuanya serba beli dan mahal.”
Orang desa: “Siapa bilang enak? Memang benar semuanya milik sendiri, panenan sendiri. Tapi, semua harus bayarin orang. Kadang, modal dengan hasil panen ndak imbang. Pas panen harga anjlok.” “Lebih enak itu jadi pedagang. Barangnya banyak dan selalu pegang uang.”
Pedagang: “Enak apanya, barang banyak tapi modal utangan. Ini barang milik juragan di kota. Kalau sedang sial, habis kulakan, harga turun.., ya bonyok…”
“Paling enak itu ya pegawai negeri.. Tiap bulan terima gaji, pakaiannya bagus dan rapi. Kerja di kantor, tidak panas dan kehujanan.”
Pegawai negeri: “Sembarangan…. pakaiannya sih rapi, tapi kantong dan dompet lebih sering kempes. Habis terima gaji langsung ludes buat bayar cicilan. Berhari-hari sampai ubanan nungguin tanggal satu.”
“Lebih enak itu jadi tukang cukur. Dapat uang, bisa pegang-pegang kepala orang, bahkan kepalanya Bupati.”
Tukang cukur: “Cuman pegang kepala, apanya yang enak. Kalau salah cukur, malah didamprat orang…… Enak itu ya, tukang pijat. Bisa raba-raba badan dari kepala hingga kaki.”
Tukang pijat: “Megang-megang badan tapi ndak bisa lihat, apa enaknya…. paling enak itu ya bidan atau dokter kandungan…bisa lihat semuanya.”
Dokter kandungan -yang duduk disamping tukang pijat- menimpali dengan kalimat yang isinya hampir sama. Lalu, berlanjut pada pengacara disebelahnya, dan terus bersambung pada orang-orang dengan profesi yang berbeda. Semuanya menyebut orang lain lebih enak.

***

Kamis, 27 November 2014

GARA-GARA TIDAK BISA NGAJI



Setelah wafat, baru kali ini ia berziarah ke makam orang tuanya. Itu pun sekedar mampir. Kebetulan ada tugas ke kota kampung halamannya. 

Setelah singgah ke rumah kerabat, ia mendatangi kuburan bapak ibunya. Ia membawa bungkusan kembang, sapu, sabit dan kendi berisi air. Rumput yang menyelimuti dua makam yang berdampingan itu, ia bersihkan tak tersisa. 

Ia duduk bersimpuh. Wajahnya seperti orang bingung. Terlintas di benaknya tayangan TV tentang orang yang berziarah kubur dg tahlil, membaca Yasin atau surat Quran lainnya. Ia ingin seperti itu, tapi ia tidak bisa tahlil dan membaca Quran. Fatihah pun terbata-bata. Orang tuanya tak pernah mengajarinya. 

Lalu, ia menabur bunga. Air dalam kendi ia tuang merata ke atas makam. Dia pikir, agar bapak ibunya merasa adem di alam kubur. Tiba-tiba terdengar suara.


Kowe ki piye to Le.., gara-gara kamu siram air, tanah diatasku jatuh masuk ke mataku. Aku kelilipen, Le…
 
Ia kaget dan lari terbirit-birit. Bajunya robek tersangkut pagar kuburan.

***