Senin, 13 April 2015

Serial Perjalanan (5) : Manado ~ Sulut


Serial sebelumnya : Tanjung Pinang

***

Pertama kali datang ke Manado, saya ditemani jadwal yang lumayan padat. Tak sempat kemana-mana. Hanya seputaran hotel. Syukurlah lokasi saya dekat pusat keramaian. Sekitar 300 meter dari hotel tempat saya menginap dan berkegiatan terdapat suatu lokasi hasil reklamasi yang disulap menjadi pertokoan, kedai makanan, restoran cepat saji, tempat bermain dan nongkrong anak-anak muda.

Saya menghabiskan malam minggu di halaman depan hotel dengan menu makan malam aneka barbeque sambil menikmati musik yang menghentak dengan pemandangan ramainya lalu lalang kendaraan.

Meski sebenarnya ada jeda hari Minggu, tapi tak ada pemandu. Dari kolam renang yang berada di lantai atas, saya menikmati pemandangan laut, gunung manado tua dan tampak salib besar diatas bukit.

Selama beberapa hari, saya puaskan sarapan pagi saya dengan bubur manado.

Pada kali kedua ke Manado, saya beruntung mendapat pengalaman duduk di kursi bisnis Garuda. Kelas saya diupgrade gratis oleh pihak garuda. Mungkin daripada kosong, kursi ekonomi milik saya dijual lagi dan saya dipindahkan ke kelas bisnis. Memang asyik duduk di kelas bisnis.

Pada kesempatan kedua itulah saya bisa berkeliling kota Manado, bahkan sampai di kota Bitung. Ketika itu pertengahan bulan Desember. Manado terlihat semarak menyambut Natal dan Tahun Baru.

***

Senin, 06 April 2015

Serial Perjalanan (4) : Tanjung Pinang – Kepulauan Riau



Serial sebelumnya: Medan
***
Ini seperti wisata religi. Kami menyeberang ke Pulau Penyengat. Disitu terdapat masjid tua dan makam raja-raja serta tokoh terkenal, khususnya di dunia sastra Melayu. Ada penulis gurindam yang dikebumikan di Pulau Penyengat. Kami berkeliling pulau, dari satu situs ke situs lainnya. Ada rumah panggung besar yang dijadikan seperti museum dan di dalamnya terdapat kursi raja dan permaisuri. Di bawah rumah panggung itu, ada sumur tua dengan satu mitos tentang khasiat meminum air sumur itu.

Sore hari kami kembali ke Tanjung Pinang. Pada saat menyeberang, kami memperoleh pengalaman yang mendebarkan. Perahu kayu yang kami naiki tiba-tiba mati sementara ombak terasa makin mengayun-ayun. Kami saling pandang, lalu tersenyum getir. Aku yakin, di setiap hati, semuanya berdoa memohon keselamatan. Sejurus kemudian, perahu hidup kembali dan mengantar kami menyeberang dengan selamat sampai ke Pelabuhan. Ada pemandangan menarik. “Oh, disinilah rupanya tempat penyeberangan ke Singapura dan Malaysia, termasuk ke Pulau Batam.”

Meski bulan Ramadhan, kami menyempatkan diri ke Pantai Trikora. Ada batu-batu besar di beberapa lokasi pantai. Sepertinya ini menjadi ciri khas pantai di Kepulauan Riau. Bayangan film Laskar Pelangi dengan pantai yang dihuni batu-batu besar terlintas di benakku.

Tak jauh dari hotel tempatku menginap, ada pertokoan. Ada yang berbeda disini. Ada banyak macam barang bikinan Malaysia dan Singapura, terutama snack dan berbagai jenis permen dan cokelat. Beberapa diantaranya, aku jadikan oleh-oleh buat Ode. “Lumayanlah, dengan oleh-oleh ini, serasa pulang dari Singapura.”
***