Selasa, 08 Januari 2013

Jumlah Hari Perjalanan Mutasi



Mungkin saja  akan ada pertanyaan seperti ini : untuk perjalanan pindah/mutasi dihitung berapa hari ? Ini ada kaitannya dengan kewajiban mengisi daftar absensi dan tentunya terkait pemotongan insentif. Saya mencoba mencari referensi di buku-buku Babon Kepegawaian. Belum ketemu juga. Simpulan saya sementara, hal ini memang belum diatur.
 
Kemudian saya ingat dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang perjalanan dinas. Dengan dasar PMK tersebut, saya mencoba menuliskan usulan saya tentang berapa lama waktu perjalanan mutasi. Kedepan, mungkin perlu diusulkan untuk pengaturan lebih lanjut, agar tidak menimbulkan banyak tafsir dan kekosongan aturan.

Dalam PMK Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Dan Pegawai Tidak Tetap, pasal 20 ayat (3), menyebutkan :
Uang harian Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d diberikan untuk pegawai bersangkutan dan masing-masing anggota keluarga yang sah dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. selama 3 (tiga) hari setelah tiba di tempat tujuan pindah/menetap yang baru;
  2. paling lama 2 (dua) hari untuk tiap kali menunggu sambungan (transit) dalam hal perjalanan tidak dapat dilakukan langsung;
  3. sebanyak jumlah hari tertahan dalam hal pegawai yang bersangkutan jatuh sakit dalam Perjalanan Dinas Pindah, satu dan lain hal menurut keputusan KPA; atau
  4. sebanyak jumlah hari tertahan dalam hal pegawai yang sedang menjalankan Perjalanan Dinas Pindah mendapat perintah dari pejabat yang menerbitkan Surat Tugas untuk melakukan tugas lain guna kepentingan negara.

Memang benar, untuk perjalanan pindah yang normal (relatif mudah transportasinya) uang harian dihitung selama 3 hari setelah tiba di tempat tujuan. Namun, hal ini bukan berarti setelah tiba di tempat tujuan ybs berleha-leha selama 3 hari tidak segera masuk kantor dengan alasan masih dihitung perjalanan pindah. Saya kira bukan begitu, tetapi, ini hanya untuk perhitungan uang harian saja. Apalagi kalau sudah ditentukan tanggal tertentu sudah harus melapor.

Dengan memperhatikan jumlah uang harian yang dibayarkan adalah 3 hari, maka menurut saya, itu kita tarik saja menjadi waktu perjalanan. Untuk perjalanan dari/ke kota-kota yang relatif mudah transportasinya diberikan waktu selama 3 hari, dan itu hari kalender bukan hari kerja. Sedangkan untuk daerah-daerah seperti di pedalaman Papua, yang membutuhkan transit,  diberikan tambahan waktu 2 hari.

Contoh :
Seorang pegawai/pejabat harus melapor di tempat baru tanggal 21 Januari 2013. Dengan asumsi tempat baru tersebut relatif mudah transportasinya, maka ybs dapat diberikan waktu perjalanan mulai hari jumat tanggal 18 Januari 2013. Sehingga pada tanggal 18 Januari, ybs dianggap DL. Pada rekap absen yang dibuat oleh kantor lama yang nantinya dikirimkan ke kantor baru, untuk tgl 18 Januari, ybs dicatat DL.

Bagaimana misalnya pegawai tersebut telat melapor. Patokannya adalah tanggal pegawai harus melapor. Jika pada tanggal 18 Januari, ybs belum melapor, yang artinya dia belum masuk kantor. Sehingga di laporan absensi di kantor baru dicatat tidak hadir atau dengan istilah X.

Apakah pada tanggal 18 Januari, ybs harus melakukan absensi elektronik ? Tentunya tidak, karena data sidik jari atau dimensi tangan belum dilakukan enroll, maka pada hari itu, ybs dibuatkan absensi manual dan segera setelah itu dilakukan enroll. Mungkin ada lagi yang bertanya, bagaimana kalau ybs datang atau melapor siang hari? Apakah ybs dianggap TL? Nah, kalau soal ini butuh kearifan pimpinan setempat. Ybs mungkin perlu ditanya baik-baik apa kendalanya. Dari jawaban yang diperoleh, pimpinan bisa mengambil sikap apakah ybs perlu di-TL atau dimaafkan.

Contoh lain :
Pegawai harus melapor tanggal 17 Januari 2013. Maka ybs dapat diberikan waktu perjalanan ke tempat tujuan mulai tanggal 14 Januari 2013, sehingga pada tanggal 14, 15, 16, ybs dicatat DL di rekap absen kantor lama. Rekap absen tersebut selanjutnya dikirimkan ke kantor baru.

Untuk memudahkan administrasi kehadiran, kantor lama dapat menerbitkan surat tugas/surat perintah perjalanan pindah atas dasar SK mutasi dan surat pemanggilan melapor/pelantikan. Siapa yang menerbitkan ? Tentunya pimpinan kantor masing-masing meski untuk dirinya sendiri, toh ini hanya untuk bukti atas ketidakhadiran di laporan absensi. Di Laporan tersebut, ybs diberikan keterangan DL.

Nah, bagaimana dengan pejabat daerah yang dilantik di Jakarta. Ini yang mungkin agak ribet. Itu artinya pegawai tersebut dianggap mendapat tugas lain yaitu mengikuti pelantikan. Seperti halnya tugas DL ke jakarta, ini diberikan waktu 3 hari. Misalnya : Pelantikan tanggal 15 Januari 2013, berarti tanggal 14 Januari tiba di jakarta, melapor ke bagian yang akan melaksanakan pelantikan. Kalau misalnya tiba sore hari setelah jam kantor, bagaimana? Saya kira, melapor tidak harus fisik kita yang datang, paling tidak kita sudah konfirmasi kedatangan kita ke bagian tersebut. Itu sebenarnya yang dibutuhkan oleh pelaksana pelantikan, kepastian kehadiran pada acara pelantikan. Selanjutnya, tanggal 15 ybs dilantik, dan maksimal tanggal 16, ybs berangkat ke tempat tugas baru. Pertanyaannya, dari Jakarta ke tempat tugas baru, dihitung berapa hari ? Menurut saya, tetap maksimal 3 hari untuk perjalanan yang normal dan ditambah 2 hari untuk yang membutuhkan transit. Tapi tunggu dulu, ini juga harus memperhatikan tanggal berapa harus melapor atau jangan-jangan sudah ada tugas baru. Maksud saya, misalnya pada tanggal 17 atau 18 sudah harus menyelesaikan pekerjaan di tempat baru. Jadi memang harus benar-benar direncanakan terkait tiket dan perjalanan darat lainnya.
 
Contoh lagi :
Seseorang mutasi ke daerah kabupaten dan harus mengikuti pelantikan terlebih dahulu di provinsi. Anggap saja misalnya mutasi ke Tanjung Redeb, tapi dilantik lebih dulu di Samarinda. Maka ybs diberikan waktu 3 hari perjalanan dari tempat lama ke Samarinda, kemudian ditambah 2 hari dihitung sejak dia dilantik di Samarinda sampai ke tempat tugas baru di Tanjung Redeb.

Pada intinya, waktu yang diperlukan untuk tiba di tempat tugas baru, selama waktu itu pula ybs dicatat DL, sehingga tidak akan berakibat pada pemotongan insentif. Saya kira seorang pejabat mempunyai integritas yang selalu dijaga dan tidak akan mencari-cari alasan hanya karena enggan menuju tempat tugas baru.

Jumat, 04 Januari 2013

Ulangan Matematika, Bantara Pencoleng, Bantara Inti, Bantara Korve, Bantara Ecek-Ecek

Suatu hari di ruang workshop SMA… Dulu, ruang workshop SMA-ku terletak di belakang kelasku, IA. Saat itu, sedang praktek mata pelajaran ketrampilan. Aku lupa, entah praktek masak atau kerajinan lainnya...  Tiba-tiba dibagikan hasil ulangan matematika… Seperti biasa kami saling melihat berapa nilai yang diperoleh teman-teman… Tapi seperti biasa juga, tidak semua teman yang mau dilihat nilainya, mungkin saja karena nilainya jeblok

Nilaiku lumayan bagus… Aku penasaran dengan nilai salah seorang teman wanita. Aku coba rebut hasil ulangan saat dia lengah. Dia marah. Tiba-tiba… Buk…!! Punggungku terasa sakit. Tangan lembutnya menghantam punggungku. Aku ingat ada seorang teman wanita lain, yang melihat kejadian itu. Aku lupa, entah apa komentarnya saat itu…

Aku juga heran mengapa aku penasaran sekali dengan nilainya… jangan-jangan waktu itu aku sudah mulai …

Sebelum masuk SMA, tepatnya saat masih SMP, aku ingat sudah pernah ketemu dia sebelumnya. Dia dengan regunya menjadi lawan regu kami saat lomba LCT P4 yang dilaksanakan dalam rangka HUT Partai Kuning. Reguku menjadi juara kedua, dan regunya juara ketiga.

Satu hal yang selalu aku ingat dari dia adalah gaya dia saat berjalan. Jalannya cepat. Di kalangan kelas I SMA saat itu, dia yang pertama kali mengenakan pakaian kerudung. Dia juga aktif di organisasi kesiswaan, OSIS dan pramuka. Bahkan, sejak kelas satu dia sudah dibidik oleh para tetua Pramuka untuk dikader menjadi salah satu pimpinan pramuka.

Benar…, saat kegiatan Pembantaraan Pramuka di Slondo Ngawi, dia bersama 10 teman lainnya dilantik menjadi Bantara Pencoleng. Sebuah regu beranggotakan para elite pramuka yang akan segera diserahi tugas untuk meneruskan kepemimpinan di Pramuka. Kenapa namanya pencoleng? Aku juga tidak tahu.

Menjadi anggota pramuka dan ikut latihan pramuka setiap sabtu sore adalah wajib bagi seluruh siswa kelas satu. Karena rumahku jauh dan ngonthel sepeda, setelah lonceng pulang sekolah, aku istirahat di sekolah sambil menunggu jam latihan pramuka. Biasanya aku dibekali makan siang, atau kalau tidak, aku makan di warung di sebelah utara sekolah.

Pelatih pramuka adalah para bantara, siswa kelas dua. Tujuan utama dari latihan pramuka adalah untuk menggembleng mental siswa kelas satu. Katanya. Kata siapa?... Hukuman push up, bentakan, gojlokan para pelatih, menjadi menu utama latihan pramuka. Tak sedikit siswa kelas satu yang menangis karena ketakutan. Aku pikir latihan ini tidak lebih dari ajang balas dendam siswa kelas dua, yang ketika mereka kelas satu juga mendapat perlakuan yang sama dari kakak kelasnya. Dan begitu seterusnya….. Syukurlah, aku dengar, saat ini latihan pramuka sudah tidak segawat dulu lagi. Ini info shahih dari mantan Pradana jamanku yang sekarang menjadi Pak Guru di SMA-ku.

Dalam hal pramuka, aku bukan apa-apa, biasa-biasa saja. Tidak ada prestasi kepramukaan yang menonjol. Anehnya, ketika hari terakhir pembantaraan di Slondo, aku ikut dilantik masuk dalam kelompok Bantara Inti. Yang artinya, aku punya hak untuk ikut melatih adik-adik kelas satu setelah aku naik kelas dua. Artinya, aku punya sertifikat untuk menyuruh push up, membentak, meng-gojlok, mengetes dan memaraf buku SKU (syarat kecakapan umum).

Padahal, fakta selama kegiatan pembantaraan aku lebih banyak bertugas menjaga tenda alias korve. Bahkan saat kegiatan penjelajahan yang bisa dikatakan kegiatan inti, aku juga korve, pokoke bantara korvelah… Lha ternyata.., aku malah terpilih jadi Bantara Inti, meski bukan pencoleng.

Setelah aku pikir-pikir, sepertinya ada kaitannya dengan kegiatan lain yang aku ikuti. Aku aktif di IKRAM, wadah kegiatan remaja masjid sekolah. Sang ketua IKRAM saat itu, juga merangkap sebagai Pradana alias Ketua Bantara. Aku dengar, saat ini IKRAM sudah bubar, lebih tepatnya mungkin dibubarkan, karena dicurigai dijadikan wadah untuk mencetak para radikalis oleh pihak-pihak luar. Padahal, kami yang para ‘assabiqunal awwalun’ termasuk diriku, tidak ada yang jadi tokoh radikal. Ya, mungkin ini dampak setelah banyaknya bom bunuh diri yang dilakoni oleh anak-anak muda.

Maka, tugasku sebagai bantara inti pada saat pembantaraan siswa kelas satu di Kresek adalah sebagai marbot, mengurusi kegiatan sholat berjamaah. Diluar jam sholat, tidak ada kegiatan yang aku tangani. Biasanya aku dan Hendro pergi ke sungai, duduk-duduk di atas bebatuan besar di tengah sungai, sambil ngrasani tingkah-polah teman-temanku yang lain, yang sepertinya memanfaatkan momen pembantaran untuk PDKT, untuk pacaran, untuk exis, dll, biasalah anak SMA…

Pada saat kegiatan penjelajahan, masih tetap dengan Hendro, aku menunggu di pos di pinggiran sungai. Setiap kali datang rombongan calon bantara, aku punya kesempatan untuk ngerjain mereka. Aku suruh mereka berendam atau baris-berbaris di dalam sungai. Sementara aku berdiri diatas batu besar, calon bantara basah kuyuh di sungai. Jujur, aku sejatinya tidak tega, karena tahun sebelumnya aku tidak ikut dikerjain saat penjelajahan, karena dapat jatah korve.

Andai saja ada lagi pembantaraan, aku pengen ikut mendaftar, bukan sebagai panitia, tapi sebagai peserta. Yang pasti, aku tidak bersedia lagi bertugas korve. Paling tidak, targetku adalah menghapus stigma korve. Minimal, si Hendro tidak lagi mengolok-olok diriku sebagai Bantara Korve, lebih-lebih jangan sampai dia menyebutku Bantara Ecek-Ecek


Kamis, 03 Januari 2013

Horcrux


Bagi Anda penggemar Harry Potter, sudah pasti mengenal istilah horcrux. Adalah Voldemort, sang musuh bebuyutan Harry Potter, tidak mudah untuk dibunuh atau dilenyapkan karena dia memiliki horcrux-horcrux. Ada 7 horcrux yang dimiliki oleh Voldemort. Dengan 7 horcrux itulah, nyawa atau kekuatan Voldemort disebar dan disembunyikan ke dalam 7 wadah. Yang itu menyebabkan betapa sulitnya melenyapkan Voldemort. Dan pada 2 serial terakhir film Harry Potter, Harry Potter bersama teman-temannya berusaha menemukan horcrux-horcrux itu untuk dimusnahkan. Senyampang horcrux-horcrux itu ditemukan dan dimusnahkan, berkuranglah kekuatan Voldemort. Sehingga ketika horcrux terakhir berupa ular nagini ditebas oleh rekan Harry Potter, sesegera pula kekuatan Voldemort melemah dan dengan mudah Harry Potter dapat mengalahkan dan melenyapkan Voldemort.

Jadi, mengutip Wikipedia, horcrux adalah suatu wadah di mana seorang Penyihir Hitam menyembunyikan bagian dari jiwanya untuk tujuan mencapai keabadian.

Terlepas Voldemort adalah tokoh jahat, dengan horcruxnya yang juga merupakan ilmu sihir keji, tetapi kita bisa memetik sisi baiknya. Pelajaran yang dapat kita petik dari tokoh Voldemort dengan horcruxnya adalah buatlah horcrux untuk pribadi kita masing-masing, agar kita tidak mudah untuk dikalahkan, tidak mudah untuk dilenyapkan dari ingatan manusia, dan itu membuat kita akan selalu dikenang dan abadi.

Nama besar Bung Karno…., sulit bagi kita untuk melupakan nama beliau. Karena nama Bung Karno sudah melekat pada proklamasi kemerdekaan, melekat pada kelahiran Pancasila, melekat pada monas, pada istiqlal dan melekat pada sejarah bangsa. Proklamasi, Pancasila, Monas, Istiqlal dan terutama sejarah bangsa, menurut saya adalah ''horcrux-horcrux'' Bung Karno (dalam hal ini mohon tidak disamakan dengan sihir keji), yang sangat sulit dan mustahil untuk dilenyapkan, yang itu membuat nama Bung Karno akan terus diingat dan dikenang sepanjang bangsa dan negara ini tetap berdiri. 

Bagi kita di sebuah organisasi tempat kita bekerja, konsep horcrux perlu untuk ditiru. Kita bisa menciptakan horcrux-horcrux kita sendiri, dalam bentuk prestasi, sebuah konsep yang digunakan, sebuah aturan yang dijalankan, sebuah pedoman yang dijadikan rujukan atau sebuah sistem aplikasi yang dinasionalkan. Dan itu akan membuat kita tetap akan diperhitungkan, akan selalu diingat. Mungkin orang bisa menyingkirkan kita, tetapi jika horcrux-horcrux kita masih hidup dan banyak ragamnya dan terus bertambah jumlahnya, sungguh akan mudah bagi kita untuk kembali dan selanjutnya nama kita akan terus dikenang walau kita menemui kefanaan. 

Bagi seorang pria, apalagi yang dicita-citakan setelah keduniaan kalau bukan keabadian sampai jauh… jauh dikemudian hari, lebih-lebih abadi di surga atau jannahfil jannah...



Rabu, 02 Januari 2013

Darah Atau Semangka....?



Ini pertama kalinya aku harus berdiri berdesak-desakan di bus ibu kota. Menjelang sore pas jam pulang kantor, macet di jalanan. Tiba-tiba perutku terserang mual berat. Rasanya ingin muntah. Aku mencoba meminta tolong penumpang untuk merelakan tempat duduknya. Semua bergeming, tidak ada yang menghiraukan. 

Aku senggol temanku. ''Mar, ayo turun, perutku mual, aku mau muntah….''. ''Kiri, Bang…'', teriak temanku. Kami pun turun. Segera aku cari tempat yang kosong di pinggir jalan. ''Huweek…''. Mataku terbelalak. Aku kaget setengah mati. ''Merah, darah ? Aku muntah darah'', pikirku dalam hati. ''Mar, aku muntah darah…''. Temanku juga kaget, sambil terus mengurut-urut tengkukku.

Setelah aku amat-amati…., ah bukan… dalam hati aku tersenyum. ''Bukan darah, Mar, tapi semangka, yang tadi aku makan di rumah Bu Mat..''.  Temanku tersenyum kecut.

Cerita kebelakang : sebelum kejadian tersebut, aku bersama temanku bertamu ke rumah bu Mat untuk melunasi biaya kontrak rumah yang di dekat kampus. Nah, pas bertamu tersebut, kami disuguhi buah semangka, dan aku makan satu potong. Dan sepotong semangka itulah yang kemudian keluar lagi yang aku sangka darah…