Senin, 16 November 2015

Keliru Karena Gak Tahu, Tapi Yakin, Ampuh Juga…



Seorang pedagang mendatangi Pak Kyai mengadukan masalah yang ia hadapi.
“Pak Kyai…, uang dagangan saya tiba-tiba hilang, padahal sudah saya kunci di dalam lemari.”
“Siapa tahu diambil istri atau pembantumu?”
“Tidak, Pak Kyai… Saya tahu bagaimana mereka. Saya curiga uang saya diambil tuyul.”
“Mohon Pak Kyai memberi saya amalan, mudah-mudahan uang saya terjaga dan usaha saya tambah lancar.”
“Ya sudah, ini saya kasih amalan ayat kursi, setiap malam habis sholat isya, kamu baca sebanyak-banyaknya,” kata Pak Kyai.

Sebulan kemudian, pedagang itu kembali sowan Pak Kyai dengan membawa banyak hadiah.
“Terima kasih, Pak Kyai… setelah saya amalkan, uang saya aman dan usaha saya bertambah maju.”
Weh.. kok ampuh beneran,” batin Pak Kyai penasaran.
“Saya pengen nanya, setiap malam kamu baca ayat kursi berapa kali?”
“5000 kali, Pak Kyai...,” jawab si Pedagang.
Weelah… banyak bener… apa mulut kamu ndak capek baca sebanyak itu? terus kamu ndak tidur, dong?”
“Ndak capek, Pak Kyai….,saya juga bisa tidur setiap malam, wong bacanya ndak lama juga,” ujar si Pedagang.
“Ndak lama gimana, itu 5000 kali. Memangnya kamu bacanya gimana?” Tanya Pak Kyai makin penasaran.
“Ya saya baca: ayat kursi, ayat kursi, ayat kursi, ayat kursi…..”
Woalah… yang saya maksud bukan begitu, masak kamu ndak tahu ayat kursi?”
“Saya ndak tahu Pak Kyai, saya orang bodoh, saya ndak bisa ngaji…”

***

Jumat, 13 November 2015

Antara Pikiran-Pikiran Baik Dan Buruk Pada Hari Pangan.




Pagi tadi saya ikut merayakan Hari Pangan. Sekitar pukul 7, saya bersama para PNS Pemda berkumpul di halaman Kantor Bupati untuk mendengarkan sambutan Bupati dan dilanjut senam pemanasan. Lalu, kami bergerak jalan santai. Ada kupon undian yang membuat saya bersemangat. Saya punya ambisi untuk mendapatkan sepeda gunung. Motivasi kedua adalah saya juga ingin menikmati pangan lokal selepas jalan santai. Saya tahu, makanan khas daerah ini enak-enak. Dorongan ketiga, saya ingin melihat wajah-wajah cantik para PNS daerah. Hehehe…

Selama perjalanan, sembari ngobrol dengan kawan-kawan, terbersit pikiran kotor. Seperti: foto kegiatan jalan santai ini bisa dipakai dan dimanipulasi menjadi kegiatan perayaan kantor. Tinggal sedikit teknik photoshop, jadilah. Tapi ini hanya bahan lelucon saja. Tak mungkinlah kami melakukannya, karena kami punya integritas.

Sepanjang jalan yang kami lewati, lalu lintas cukup terganggu. Kami memenuhi separuh lebih jalan. Saya berjalan sambil merenung. Saya mencoba berpikir seandainya saya adalah seorang yang bukan PNS dan pengguna jalan yang melintas. Kira-kira kalimat apa dalam pikiran saya yang bukan PNS itu?

Pikiran buruk sangkanya pasti begini.
“Ini para PNS enak bener ya… ini kan hari kerja, bukannya bekerja malah jalan santai… menuhi jalan lagi. Belum nanti, selepas acara, gak mungkin mereka akan ngantor. Karena alasan bau keringat, mereka akan cepet pulang untuk mandi, ganti baju. Tapi karena waktu sudah dekat jam istirahat, mereka juga tidak akan segera kembali ke kantor. Beristirahatlah mereka di rumah lebih dulu. Artinya dari pagi sampai siang mereka hari itu gak bekerja. Atau memang kerjanya ya jalan santai itu, ya….?”

Tapi, ada juga pikiran dengan prasangka baik.
“Ah gak papa, wong cuman sekali-kali, gak setiap hari begini. Ini kan juga dalam rangka Hari Pangan, siapa tahu dengan begini mereka bisa mendorong, memicu masyarakat untuk selalu cinta produk lokal. Anggap saja, jalan santai ini semacam kampanye, mereka sedang mengajak masyarakat, menggaungkan program dan ini memang menjadi salah satu tugas pemerintah. Kalau begitu, artinya mereka juga bekerja, bukan?”

Ah, sudahlah… itu hanya lintasan-lintasan pikiran. Tak semua orang sempat berpikir seperti itu.

Pada akhirnya, saya agak kecewa, karena gagal mendapatkan sepeda gunung. Tak satu pun doorprize lain yang saya peroleh. Nasib memang. Hampir-hampir di setiap undian berhadiah, saya selalu meleset. Tapi, saya masih beruntung bisa menikmati panganan lokal yang berbahan baku ubi dan ketela. Dan, tahukah Anda bagaimana rasanya? Sama dengan yang ada di kampung saya. Hehehe…

***

Kamis, 12 November 2015

TERKENAL



Enak menjadi orang terkenal. Begitu kata banyak orang. Tapi sesungguhnya tidak juga. Awalnya iya. Lama-lama membuat Sang Ustadz sedikit jenuh. Kemana-mana tidak leluasa karena banyak yang mengenalnya. Ia merasa tak bebas duduk-duduk di pinggir jalan. Pakai jeans dan kaos oblong rasanya juga tidak enak hati. Tak juga nyaman jika nongkrong di warung. Takut ada yang mbayarin.

Ke pasar mengantar istri juga penuh resiko. Dirubung ibu-ibu. Hingga istrinya tak mau lagi dia antar masuk pasar.
“Abi di mobil saja.”
“Ntar, malah bikin keributan di pasar. Aku juga capek diajak foto-foto terus. Masak orang sepasar minta foto.”
“Apalagi lihatin Abi diajak foto bareng sama ibu-ibu, lama-lama bikin geram juga.” Ujar istrinya sewot lalu tersenyum manis.

“Dimana-mana kalau saya datang langsung dikerubuti ibu-ibu. Lihat ini lengan saya biru-biru semua. Sakit, perih karena cubitan. Dari cubitannya saya tahu kalau yang nyubit ini pasti janda-janda.” Gurauan sang Ustadz disambut tawa para jamaah. 

***

Rabu, 11 November 2015

DUA JENIS PNS



Ada dua jenis PNS. Pertama, PNS yang rajin bekerja, berkreasi, berinovasi hingga lupa melanjutkan jenjang pendidikan. Ia merupakan ujung tombak instansi, berada di lini penting layanan atau di bagian yang merampungkan segala macam pekerjaan. Seolah ia adalah sapu jagad. Hampir semua jenis pekerjaan bisa ia sapu bersih. Ia juga tak segan-segan membantu rekan-rekannya bila menghadapi masalah. Bagi pimpinan ia dicintai, diharap-harap kehadirannya di kantor. Bahkan, sekali ia pergi dinas, rasanya mau kiamat saja bagi pimpinan. Dalam banyak hal ia sangat membantu target pimpinan mencapai tujuan organisasinya.
Kedua, PNS yang biasa-biasa saja dalam bekerja. Prestasi dalam pekerjaan kantor kurang menonjol. Kalaupun ia pergi dinas atau ijin tidak masuk kantor, orang lain tidak akan kesulitan menggantikan pekerjaannya. Ia punya ambisi pribadi. Ada target pribadi untuk memperoleh beasiswa pendidikan lebih tinggi. Sehingga, waktunya lebih terforsir untuk menyiapkan diri menghadapi tes seleksi. Ia memilih menggunakan waktunya untuk belajar. Kapasitas dan kompetensi  belum ia optimalkan dalam bekerja. Hampir-hampir tak ada kreasi atau inovasi yang ia ciptakan. Ia memang pintar, namun hanya sekedar pandai saja. Dan pada akhirya, tujuan pribadinya tercapai, ia lulus seleksi, mendapat beasiswa. Beberapa tahun kemudian, ia lulus dan memperoleh penghargaan dari institusi berupa jabatan yang lebih tinggi. Lalu, hal ini menjadi kiblat para yunior. Mereka melihat pola semacam itu, hingga kemudian mereka contohnya. Pada para pegawai jenis ini, yang penting bisa sekolah mendapat beasiswa, dan jabatan pun dapat mereka duduki.
Kini, pemerintah telah lebih jeli. Pemerintah sudah mendeteksi gejala PNS jenis kedua diatas. Makanya kemudian setelah lulus beasiswa, perlu adanya magang untuk waktu yang lebih lama, sekaligus sebagai pembuktian atas keilmuan yang telah ia dapatkan. Telah juga disadari bahwa untuk menduduki jabatan tidak cukup dengan modal ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah. Pengalaman kerja tetap diperlukan untuk mendukung kematangan dalam memimpin suatu unit.
Terhadap PNS jenis pertama, pemerintah juga telah mencari  terobosan dengan menyelenggarakan talent pool atau ajang pencarian bakat dan minat di bidang tertentu. Selain itu, rekomendasi secara obyektif dari pimpinan unit yang melihat dan menilai secara langsung kinerja bawahan perlu juga diperhatikan. Harapannya adalah dedikasi yang telah diberikan oleh PNS jenis pertama mendapatkan reward dari organisasi termasuk dalam jenjang karir yang lebih tinggi.
    Bila masing-masing bagian dari dua jenis PNS diatas digabungkan, maka akan ada PNS jenis ketiga dan keempat. Jika kelebihannya yang digabung, kita menyebutnya sebagai PNS yang berdedikasi tinggi dan mampu meraih beasiswa. Seorang PNS yang merupakan ujung tombak institusi, namun juga sanggup memperoleh beasiswa pendidikan yang lebih tinggi. Jelas, ini adalah tipe ideal seorang PNS dimana organisasi selalu mendorong lahirnya PNS model ini.
   Namun, jika kekurangan dari dua jenis PNS diatas dikolaborasi, lahirlah PNS jenis keempat, yaitu mereka yang biasa saja dalam bekerja, cenderung miskin inovasi dan tidak pula punya gairah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
***