Kamis, 12 November 2015

TERKENAL



Enak menjadi orang terkenal. Begitu kata banyak orang. Tapi sesungguhnya tidak juga. Awalnya iya. Lama-lama membuat Sang Ustadz sedikit jenuh. Kemana-mana tidak leluasa karena banyak yang mengenalnya. Ia merasa tak bebas duduk-duduk di pinggir jalan. Pakai jeans dan kaos oblong rasanya juga tidak enak hati. Tak juga nyaman jika nongkrong di warung. Takut ada yang mbayarin.

Ke pasar mengantar istri juga penuh resiko. Dirubung ibu-ibu. Hingga istrinya tak mau lagi dia antar masuk pasar.
“Abi di mobil saja.”
“Ntar, malah bikin keributan di pasar. Aku juga capek diajak foto-foto terus. Masak orang sepasar minta foto.”
“Apalagi lihatin Abi diajak foto bareng sama ibu-ibu, lama-lama bikin geram juga.” Ujar istrinya sewot lalu tersenyum manis.

“Dimana-mana kalau saya datang langsung dikerubuti ibu-ibu. Lihat ini lengan saya biru-biru semua. Sakit, perih karena cubitan. Dari cubitannya saya tahu kalau yang nyubit ini pasti janda-janda.” Gurauan sang Ustadz disambut tawa para jamaah. 

***

Rabu, 11 November 2015

DUA JENIS PNS



Ada dua jenis PNS. Pertama, PNS yang rajin bekerja, berkreasi, berinovasi hingga lupa melanjutkan jenjang pendidikan. Ia merupakan ujung tombak instansi, berada di lini penting layanan atau di bagian yang merampungkan segala macam pekerjaan. Seolah ia adalah sapu jagad. Hampir semua jenis pekerjaan bisa ia sapu bersih. Ia juga tak segan-segan membantu rekan-rekannya bila menghadapi masalah. Bagi pimpinan ia dicintai, diharap-harap kehadirannya di kantor. Bahkan, sekali ia pergi dinas, rasanya mau kiamat saja bagi pimpinan. Dalam banyak hal ia sangat membantu target pimpinan mencapai tujuan organisasinya.
Kedua, PNS yang biasa-biasa saja dalam bekerja. Prestasi dalam pekerjaan kantor kurang menonjol. Kalaupun ia pergi dinas atau ijin tidak masuk kantor, orang lain tidak akan kesulitan menggantikan pekerjaannya. Ia punya ambisi pribadi. Ada target pribadi untuk memperoleh beasiswa pendidikan lebih tinggi. Sehingga, waktunya lebih terforsir untuk menyiapkan diri menghadapi tes seleksi. Ia memilih menggunakan waktunya untuk belajar. Kapasitas dan kompetensi  belum ia optimalkan dalam bekerja. Hampir-hampir tak ada kreasi atau inovasi yang ia ciptakan. Ia memang pintar, namun hanya sekedar pandai saja. Dan pada akhirya, tujuan pribadinya tercapai, ia lulus seleksi, mendapat beasiswa. Beberapa tahun kemudian, ia lulus dan memperoleh penghargaan dari institusi berupa jabatan yang lebih tinggi. Lalu, hal ini menjadi kiblat para yunior. Mereka melihat pola semacam itu, hingga kemudian mereka contohnya. Pada para pegawai jenis ini, yang penting bisa sekolah mendapat beasiswa, dan jabatan pun dapat mereka duduki.
Kini, pemerintah telah lebih jeli. Pemerintah sudah mendeteksi gejala PNS jenis kedua diatas. Makanya kemudian setelah lulus beasiswa, perlu adanya magang untuk waktu yang lebih lama, sekaligus sebagai pembuktian atas keilmuan yang telah ia dapatkan. Telah juga disadari bahwa untuk menduduki jabatan tidak cukup dengan modal ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah. Pengalaman kerja tetap diperlukan untuk mendukung kematangan dalam memimpin suatu unit.
Terhadap PNS jenis pertama, pemerintah juga telah mencari  terobosan dengan menyelenggarakan talent pool atau ajang pencarian bakat dan minat di bidang tertentu. Selain itu, rekomendasi secara obyektif dari pimpinan unit yang melihat dan menilai secara langsung kinerja bawahan perlu juga diperhatikan. Harapannya adalah dedikasi yang telah diberikan oleh PNS jenis pertama mendapatkan reward dari organisasi termasuk dalam jenjang karir yang lebih tinggi.
    Bila masing-masing bagian dari dua jenis PNS diatas digabungkan, maka akan ada PNS jenis ketiga dan keempat. Jika kelebihannya yang digabung, kita menyebutnya sebagai PNS yang berdedikasi tinggi dan mampu meraih beasiswa. Seorang PNS yang merupakan ujung tombak institusi, namun juga sanggup memperoleh beasiswa pendidikan yang lebih tinggi. Jelas, ini adalah tipe ideal seorang PNS dimana organisasi selalu mendorong lahirnya PNS model ini.
   Namun, jika kekurangan dari dua jenis PNS diatas dikolaborasi, lahirlah PNS jenis keempat, yaitu mereka yang biasa saja dalam bekerja, cenderung miskin inovasi dan tidak pula punya gairah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
***

Senin, 31 Agustus 2015

Sang Petani



Terik mentari menyengat tubuhnya yang renta
Kepulan nikotin lekat dengan muka

Berdiri mematung memandangi buliran padi 
Keputusasaan menyeruak diri
Terbayang jerih payah yang punah
Padi puso dimamah hama sawah

Setahun berlalu, saat bahagia itu menghampiri
Ia telah menjadi petani, bukan buruh tani
Status baru disandangnya dikala senja
Hamparan sawah telah menjadi milik keluarga

Semangatnya terus menyala tak imbang dengan jumlah usia
Jiwa tani sejati telah menghunjam
Putus asa tak lebih dari hitungan detik jam
Bangkit segera, lupakan duka

Alkisah, berpuluh tahun ia bergelut di negeri sana
Demi cita-cita keluarga dan putra-putrinya
Pantang menyerah, meski kurungan taruhannya

Kini, cita-cita itu bukan lagi mimpi
Putra putri telah menjadi sarjana sejati
Mandiri dan penuh balas budi

Tetap saja, tak ada bahagia yang sempurna
Ada lubang di hati, yang tak bisa ditambalnya
Kekasih jiwa telah tiada
Disaat bahagia keluarga, mulai menyapa

***

Senin, 13 April 2015

Serial Perjalanan (5) : Manado ~ Sulut


Serial sebelumnya : Tanjung Pinang

***

Pertama kali datang ke Manado, saya ditemani jadwal yang lumayan padat. Tak sempat kemana-mana. Hanya seputaran hotel. Syukurlah lokasi saya dekat pusat keramaian. Sekitar 300 meter dari hotel tempat saya menginap dan berkegiatan terdapat suatu lokasi hasil reklamasi yang disulap menjadi pertokoan, kedai makanan, restoran cepat saji, tempat bermain dan nongkrong anak-anak muda.

Saya menghabiskan malam minggu di halaman depan hotel dengan menu makan malam aneka barbeque sambil menikmati musik yang menghentak dengan pemandangan ramainya lalu lalang kendaraan.

Meski sebenarnya ada jeda hari Minggu, tapi tak ada pemandu. Dari kolam renang yang berada di lantai atas, saya menikmati pemandangan laut, gunung manado tua dan tampak salib besar diatas bukit.

Selama beberapa hari, saya puaskan sarapan pagi saya dengan bubur manado.

Pada kali kedua ke Manado, saya beruntung mendapat pengalaman duduk di kursi bisnis Garuda. Kelas saya diupgrade gratis oleh pihak garuda. Mungkin daripada kosong, kursi ekonomi milik saya dijual lagi dan saya dipindahkan ke kelas bisnis. Memang asyik duduk di kelas bisnis.

Pada kesempatan kedua itulah saya bisa berkeliling kota Manado, bahkan sampai di kota Bitung. Ketika itu pertengahan bulan Desember. Manado terlihat semarak menyambut Natal dan Tahun Baru.

***

Senin, 06 April 2015

Serial Perjalanan (4) : Tanjung Pinang – Kepulauan Riau



Serial sebelumnya: Medan
***
Ini seperti wisata religi. Kami menyeberang ke Pulau Penyengat. Disitu terdapat masjid tua dan makam raja-raja serta tokoh terkenal, khususnya di dunia sastra Melayu. Ada penulis gurindam yang dikebumikan di Pulau Penyengat. Kami berkeliling pulau, dari satu situs ke situs lainnya. Ada rumah panggung besar yang dijadikan seperti museum dan di dalamnya terdapat kursi raja dan permaisuri. Di bawah rumah panggung itu, ada sumur tua dengan satu mitos tentang khasiat meminum air sumur itu.

Sore hari kami kembali ke Tanjung Pinang. Pada saat menyeberang, kami memperoleh pengalaman yang mendebarkan. Perahu kayu yang kami naiki tiba-tiba mati sementara ombak terasa makin mengayun-ayun. Kami saling pandang, lalu tersenyum getir. Aku yakin, di setiap hati, semuanya berdoa memohon keselamatan. Sejurus kemudian, perahu hidup kembali dan mengantar kami menyeberang dengan selamat sampai ke Pelabuhan. Ada pemandangan menarik. “Oh, disinilah rupanya tempat penyeberangan ke Singapura dan Malaysia, termasuk ke Pulau Batam.”

Meski bulan Ramadhan, kami menyempatkan diri ke Pantai Trikora. Ada batu-batu besar di beberapa lokasi pantai. Sepertinya ini menjadi ciri khas pantai di Kepulauan Riau. Bayangan film Laskar Pelangi dengan pantai yang dihuni batu-batu besar terlintas di benakku.

Tak jauh dari hotel tempatku menginap, ada pertokoan. Ada yang berbeda disini. Ada banyak macam barang bikinan Malaysia dan Singapura, terutama snack dan berbagai jenis permen dan cokelat. Beberapa diantaranya, aku jadikan oleh-oleh buat Ode. “Lumayanlah, dengan oleh-oleh ini, serasa pulang dari Singapura.”
***